Pendidikan dulu dan sekarang
Oleh: Agus Setiawan ( Praktisi Pendidikan )
Dahulu, orang tua memasukkan anak ke sekolah agar menjadi pintar. Sekarang, setelah anak masuk sekolah, orang tua memasukkannya lagi ke bimbingan belajar agar “benar-benar” lebih pintar. Sekolah akhirnya seperti tempat penitipan seragam, sedangkan bimbel menjadi bengkel untuk memperbaiki nilai.
Setiap sore, anak-anak keluar dari sekolah dengan wajah lelah, lalu berangkat ke Bimbel dengan wajah lebih Lelah lagi. Mereka belajar matematika di sekolah, kemudian mengulang matematika di Bimbel, lalu pulang membawa soal tambahan. Tampaknya, masa kanak-kanak dianggap terlalu berbahaya jika dibiarkan tanpa pekerjaan rumah.
John Dewey pernah mengatakan bahwa pendidikan merupakan proses kehidupan, bukan sekadar persiapan untuk kehidupan. Namun, pendidikan kita justru sibuk mempersiapkan anak menghadapi ujian. Hidup boleh menyusul kemudian, kalau masih tersedia waktu setelah les, latihan soal, simulasi ujian, dan rapat orang tua.
Jean Piaget menjelaskan, bahwa anak membangun pengetahuan melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya. Tetapi, kita rupanya mempunyai teori yang lebih praktis: pengetahuan dibangun melalui arsip soal tahun lalu. Semakin tebal bundel soal, semakin besar harapan orang tua—dan semakin kecil kesempatan anak melihat matahari.
Lev Vygotsky memperkenalkan konsep zone of proximal development. Anak dapat berkembang dengan bantuan guru atau teman yang lebih mampu. Dalam prakteknya, “orang yang lebih mampu” itu sering kali justru tentor Bimbel. Guru sekolah memberi soal, tentor menjelaskan, orang tua membayar, dan anak menjadi arena kerja sama lintas lembaga.
Benjamin Bloom menyusun jenjang kemampuan berpikir dari mengingat hingga mencipta. Pendidikan kita sering berhenti di lantai pertama: mengingat. Anak diminta menghafal rumus, tanggal, definisi, dan jawaban pilihan ganda. Jika mampu mencipta, sebaiknya menciptakan cara cepat memilih jawaban A, B, C, D, atau E.
Paulo Freire mengkritik pendidikan gaya bank: guru menyetor pengetahuan ke kepala murid. Kini sistemnya semakin modern. Sekolah membuka rekening, Bimbel menambah deposito, sedangkan ujian menarik seluruh saldo. Bila jawabannya salah, anak dinyatakan mengalami kredit macet intelektual.
Ki Hadjar Dewantara mengajarkan, bahwa pendidikan harus menuntun kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Sayangnya, yang sering dituntun bukan kodrat anak, melainkan grafik nilai. Anak yang pandai menggambar dianggap kurang serius karena gambarnya tidak keluar dalam ujian. Anak yang suka bertanya kadang diminta diam karena mengganggu penyelesaian kurikulum.
Akhirnya, sekolah dan Bimbel berlomba menghasilkan angka. Sekolah bangga karena banyak siswanya masuk perguruan tinggi; Bimbel memasang wajah mereka pada spanduk. Sang anak tersenyum di antara logo lembaga, meskipun mungkin tidak tahu siapa yang sebenarnya sedang merayakan keberhasilannya.
Bimbel tentu tidak salah. Ia hadir karena ada lubang cuan yang menganga. Hanya saja, yang menggelikan ialah, sekolah merasa sukses karena muridnya lulus berkat bantuan pihak yang diam-diam membuktikan bahwa sekolah belum cukup berhasil.
Jika keadaan ini diteruskan, kelak sekolah mungkin cukup menyediakan kantin, lapangan upacara, tempat parker dan katanya pendidikan karakter (?). Pelajarannya diserahkan kepada Bimbel. Ijazahnya tentu tetap dicetak sekolah; karena dalam pendidikan kita, jangan-jangan yang paling tidak boleh kalah, bukanlah proses belajar, melainkan stempel lembaga. 301026


